Surabaya, linejatim – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mengukuhkan posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Komitmen aktif UNAIR dalam mendukung upaya percepatan penurunan stunting nasional diapresiasi oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan sebuah penghargaan. Apresiasi ini diserahkan pada Selasa (11/11) lalu.
Penghargaan tersebut menjadi penanda bahwa UNAIR tidak hanya menjalankan peran tri dharma perguruan tinggi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara normatif, tetapi juga menerjemahkannya menjadi kontribusi nyata.
Prof Dr Sri Sumarmi SKM MSi menyatakan bahwa pencapaian ini sekaligus menegaskan peran strategis UNAIR dalam mengimplementasikan berbagai target Sustainable Development Goals (SDGs).
“Ini bukan sekadar trofi. Ini adalah pembuktian bahwa seluruh kegiatan tridharma UNAIR memiliki dampak nyata dan terukur pada masyarakat. Program andalan kami, Desa Emas, adalah contoh konkret penerapan berbagai aspek SDGs, mulai dari pengentasan kemiskinan, peningkatan kesehatan, kesetaraan gender, sanitasi, hingga pentingnya kerja sama lintas sektor,” jelasnya.
Kontribusi UNAIR dalam pencegahan stunting dilakukan melalui pengerahan sumber daya penuh. Dosen dan mahasiswa terlibat aktif melalui berbagai skema, termasuk Kuliah Kerja Nyata (KKN), Praktik Kerja Lapangan (PKL), program magang, riset inovatif, dan program pengabdian masyarakat di berbagai wilayah,
Guna memperkuat intervensi, universitas juga menjalin kemitraan strategis dengan berbagai pihak eksternal, seperti BKKBN, pemerintah daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO), hingga sektor industri.
“Pendampingan kami bersifat komprehensif, dilakukan langsung di tengah masyarakat sekaligus di institusi pemerintah untuk membantu perbaikan kinerja program. Riset-riset yang kami hasilkan juga selalu berorientasi pada implementasi yang dapat digunakan langsung,” terang Prof Sumarmi.
Upaya kolaboratif ini telah membuahkan hasil signifikan, terutama di Jawa Timur. Melalui pendampingan intensif yang dilakukan UNAIR di 20 kabupaten/kota, terjadi penurunan prevalensi stunting yang drastis, dari 17,7 persen menjadi 14,7 persen. Angka ini menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi dengan prevalensi stunting terendah kedua secara nasional.
Meskipun telah mencapai hasil yang membanggakan, Prof Sumarmi menegaskan bahwa komitmen UNAIR tidak berhenti. Kampus berencana untuk memperluas jangkauan pendampingan ke wilayah lain di luar Jawa Timur.
Selain itu, UNAIR juga aktif di tataran nasional sebagai pengurus Konsorsium Perguruan Tinggi Peduli Stunting dan sedang mengintegrasikan materi pencegahan stunting ke dalam kurikulum perkuliahan.
“UNAIR bukan menara gading yang terpisah dari realitas. Kami memastikan bahwa ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang kami hasilkan harus benar-benar kembali ke masyarakat dalam bentuk dampak yang konkret dan transformatif,” tutupnya.


Comment