Jakarta, linejatim – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai “londo ireng”. Mahfud mengaku memahami keberatan sejumlah kalangan yang menilai istilah tersebut menyakitkan.
“Saya paham, sakit dibilang londo ireng karena pengkhianat itu orang paling jelek,” kata Mahfud, Selasa (28/7/2026).
Mahfud menegaskan bahwa pihak-pihak yang selama ini menyampaikan kritik kepada pemerintah tidak memiliki hubungan atau kepentingan dengan pihak asing.
“Ya semuanya mengaca diri dong, siapa sih yang bekerja sama dengan orang asing, siapa yang nego-nego dengan orang asing, kalau kita kan ndak,” ujarnya.
Menurut Mahfud, hubungan dengan pihak asing dalam konteks kebijakan merupakan bagian dari tugas pemerintah. Namun, ia menilai kritik yang disampaikan jurnalis, pengamat, maupun masyarakat merupakan bentuk kepedulian terhadap bangsa, bukan tindakan pengkhianatan.
“Kalau kita selalu memberi solusi, masa disebut londo ireng,” tegasnya.
Di sisi lain, Penasihat Khusus Presiden Hasan Nasbi menyatakan bahwa ucapan Presiden Prabowo telah disalahartikan oleh sebagian pihak. Menurutnya, publik terjebak pada kekeliruan penalaran (logical fallacy) sehingga memaknai pernyataan tersebut sebagai tudingan kepada seluruh jurnalis maupun LSM.
Hasan menegaskan bahwa Presiden tidak bermaksud menyamaratakan semua jurnalis, pengamat, maupun organisasi masyarakat sipil sebagai pihak yang dimaksud dalam pernyataannya.
Pernyataan Presiden tersebut memicu perdebatan di ruang publik mengenai penggunaan istilah “londo ireng” dalam konteks demokrasi. Sejumlah pihak menilai kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari mekanisme demokrasi yang harus dihormati, sementara pihak Istana menegaskan bahwa ucapan Presiden tidak ditujukan kepada seluruh kelompok jurnalis maupun LSM.


Comment