Bangkalan, linejatim – Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Assoc. Prof. Dr. Eric Hermawan, MT., MM., menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika). Acara yang berlangsung dinamis ini diselenggarakan di Joker Cafe, daerah kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Bangkalan, (24/06/2026).

Kegitan ini dihadiri oleh berbagai elemen aktivis mahasiswa UTM serta sejumlah tamu undangan penting, termasuk Ketua dan Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bangkalan.
Dalam paparannya, legislator yang akrab disapa Bang Eric ini menjelaskan akar sejarah yang mendalam dari nilai-nilai kebangsaan Indonesia, Dirinya mengaitkan esensi persatuan ini dengan era kejayaan Nusantara.
”Empat Pilar ini memiliki rekam jejak historis yang panjang, terinspirasi dari era pra-Sejarah hingga masa kejayaan Majapahit, salah satunya termaktub dalam Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular,” ujar Bang Eric.
Lebih lanjut, Bang eric mengingatkan kembali peran penting tokoh bangsa, Taufiq Kiemas (Ketua MPR RI periode 2009–2013), yang menginisiasi dan menggagas istilah Empat Pilar ini. Kini, program tersebut menjadi agenda wajib bagi setiap anggota DPR RI untuk disosialisasikan kepada masyarakat luas.
Menurutnya, Empat Pilar bukan sekadar hafalan, melainkan pedoman hidup sekaligus mnjadi tolak ukur moral bagi masyarakat umum dan generasi muda dalam kehidupan berbangsa, disisi lain juga menyampaikan bahwa empat pilar ini menjadi landasan utama dan batasan bagi internal DPR RI dalam menyusun setiap undang-undang.
Didepan para aktivis mahasiswa Bang Eric juga melontarkan pemikiran reflektif mengenai pentingnya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“NKRI adalah perekat keindonesiaan. Andaikan NKRI ini tidak ada, entah sejak tahun berapa Madura mungkin sudah memisahkan diri menjadi negara tersendiri. Namun bersyukur, komitmen NKRI menjaga kita tetap satu,” tambaahnya.
Dirinya juga meluruskan pemahaman mengenai lambang-lambang negara. Ia menekankan bahwa Tut Wuri Handayani merupakan semboyan dan lambang pendidikan, sedangkan Garuda Pancasila dengan cengkeraman pita Bhinneka Tunggal Ika adalah lambang pemersatu bangsa yang majemuk.
Sesi diskusi dilanjutkan oleh Sairil Munir, Anggota KPU Kabupaten Bangkalan. Dalam pemaparannya, Munir mengapresiasi keberagaman yang terlihat langsung di dalam ruang forum. Dirinya mencontohkan bahwa mahasiswa yang hadir berasal dari berbagai latar belakang suku yang berbeda seperti Batak, Medan, dan Madura serta bernaung di bawah organisasi kemahasiswaan yang beragam, mulai dari HMI, PMII, hingga GMNI.
Anggota KPU tersebut juga menekankan bahwa miniatur kebhinnekaan di dalam forum ini harus dirawat, terutama dalam menyambut Generasi Emas 2045. Kurang lebih 20/30 tahun lagi, generasi mahasiswa saat ini yang akan menggantikan posisi para pejabat, baik sebagai hakim, ASN, maupun profesi strategis lainnya.
“Maka diperlukan Kesiapan Mental dan kemampuan akademik karena persaingan ke depan akan jauh lebih berat, sehingga kapasitas diri harus dipersiapkan sejak dini”
Dalam kesempatan yang sama Sairil Munir juga mengambil kajian ilmiah dalam penerapan dari substansi tersebut yang menyinggung pengalaman mahasiswa saat melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN). mahasiswa luar Madura yang mengabdi di tanah Madura akan belajar beradaptasi dengan adat setempat.
Contoh seperti tradisi khas Madura saat hari raya Islam, seperti tradisi menyajikan makanan (ketukan wajib) di setiap rumah yang dikunjungi. Tradisi penghormatan tamu yang unik ini bahkan telah menarik perhatian akademisi dan menjadi objek penelitian ilmiah di salah satu kampus besar di Surabaya, yaitu Universitas Airlangga (Unair).
Sebagai penutup, esensi dari sosialisasi Empat Pilar DPR RI ini adalah panggilan aksi bagi generasi muda. Mahasiswa dan masyarakat luas diharapkan mampu mengaplikasikan nilai-nilai luhur, menerima segala bentuk perbedaan pendapat maupun latar belakang, serta menjunjung tinggi kesetaraan demi mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045


Comment