Accos. Prof. Dr. Eric Hermawan, MT., MM.
Anggota DPR RI Komisi XI Dapil Masura
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bukan sekadar angka yang berkedip di layar trading. Ia adalah cermin kesehatan ekonomi sebuah bangsa mencerminkan kepercayaan investor, daya saing industri, dan kualitas tata kelola pasar. Namun di balik potensinya yang besar, IHSG menyimpan kerentanan struktural yang, jika dibiarkan, akan terus membuatnya rentan terhadap guncangan dari dalam maupun luar negeri.
Tiga variabel makroekonomi ini bekerja seperti sekrup yang bisa diputar semakin kencang hingga menekan IHSG ke bawah. Hubungan antara suku bunga dan indeks saham bersifat terbalik: ketika Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate apalagi secara agresif instrumen bebas risiko seperti Surat Berharga Negara dan deposito menjadi lebih menarik dibanding saham. Dana bergeser keluar dari ekuitas.
Namun BI tidak beroperasi dalam ruang hampa. Setiap kali The Fed (bank sentral AS) menaikkan suku bunga secara agresif seperti yang terjadi sepanjang 2022–2023 ketika Fed Funds Rate dinaikkan dari 0,25% menjadi 5,5% dalam waktu 18 bulan BI terpaksa mengikuti agar tidak terjadi pelarian modal. Jika diferensial imbal hasil antara aset dolar dan Rupiah melebarkan terlalu jauh, investor global akan memilih parkir di dolar. Rupiah melemah, IHSG tertekan.
Inflasi memperumit situasi. Inflasi tinggi (di atas 5%–6%) memaksa kebijakan moneter ketat sekaligus menekan daya beli konsumen dan margin emiten kombinasi mematikan bagi pasar saham. Sementara rupiah yang melemah melampaui ambang psikologis Rp 16.000 per dolar selalu memicu kepanikan: investor asing yang memegang saham rupiah secara otomatis mengalami kerugian nilai dalam denominasi dolar, dan gelombang penjualan pun dimulai.
Angin dari luar Indonesia adalah ekonomi terbuka yang sangat dipengaruhi sentimen global. Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat akibat perang, eskalasi konflik besar, atau ketegangan perdagangan, investor global melakukan flight to safety secara masif: uang mengalir dari aset berisiko seperti pasar berkembang menuju obligasi AS dan emas.
IHSG menjadi korban kolateral dari kepanikan ini, terlepas dari kondisi fundamental domestik.
Komoditas adalah pedang bermata dua bagi Indonesia. Sebagai eksportir besar batu bara, minyak sawit mentah (CPO) dan nikel, harga komoditas yang tinggi menguntungkan neraca ekspor dan saham pertambangan. Namun Indonesia juga net importer minyak sehingga kenaikan harga minyak dunia justru menekan APBN melalui subsidi BBM, mendorong inflasi dan memaksa kebijakan moneter ketat.
Sementara itu, korelasi IHSG dengan Wall Street kian erat di era globalisasi: ketika S&P 500 jatuh tajam pada malam hari, keesokan paginya IHSG hampir pasti dibuka dengan gap turun yang signifikan.
Di sinilah letak kerentanan paling dalam IHSG, sebuah kelemahan struktural yang diungkap dalam diskusi kebijakan pasar modal terkini. Data menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: uang besar terkonsentrasi hanya pada 2,74% nasabah berusia 60 tahun ke atas, sementara 54% investor adalah anak muda di bawah 30 tahun yang modalnya masih kecil namun mendominasi jumlah akun. Ini menciptakan basis investor yang rapuh secara psikologis.
Ketika investor asing mulai menjual dalam skala besar dipicu oleh faktor global apapun, efek dominonya bekerja cepat: saham-saham blue chip seperti BBCA, BMRI dan TLKM jatuh; investor ritel muda yang belum pernah merasakan bear market sesungguhnya panik dan ikut menjual; rupiah melemah karena asing mengonversi hasil penjualan ke dolar; dan pelemahan rupiah memperkuat alasan asing untuk terus keluar. Spiral ini bisa berputar sangat cepat di pasar yang tidak cukup dalam likuiditasnya.
Sejarah IHSG diwarnai tiga episode kejatuhan yang meninggalkan pelajaran berharga:
Pertama, Krisis Global 2008: IHSG ambruk 60,7% hanya dalam 10 bulan, dari 2.830 ke 1.111, saat kolapsnya Lehman Brothers memicu deleveraging global masif. Ketika asing keluar bersamaan dari pasar yang dangkal, tidak ada yang bisa menahan kejatuhan.
Kedua, Taper Tantrum 2013: Isyarat Fed untuk mengakhiri stimulus moneter memicu flight to dollar global. Indonesia bersama India, Brazil, Afrika Selatan dan Turki dijuluki “Fragile Five” karena defisit transaksi berjalannya yang besar. IHSG turun 24,4% dalam tiga bulan, sementara rupiah melemah dari Rp 9.700 ke Rp 11.600 per dolar AS. Episode ini mengajarkan bahwa kebijakan satu bank sentral di Washington bisa menentukan nasib bursa di Jakarta.
Ketiga, Covid-19 Crash 2020: IHSG turun 37,5% hanya dalam tujuh minggu bahkan memicu trading halt dua kali dalam sehari. Yang menarik, pandemi ini sekaligus melahirkan jutaan investor ritel baru yang kini mendominasi akun di bursa. Mereka belum pernah merasakan kepedihan bear market sesungguhnya. Jika koreksi besar terjadi lagi, reaksi kawanan dari kelompok ini bisa memperdalam kejatuhan secara dramatis.
Ada beberapa kelemahan mendesak yang harus segera dibenahi. Asimetri kebijakan Unusual Market Activity (UMA) harus dihapus: tidak adil jika saham yang naik di-suspend, sementara yang anjlok dibiarkan. Ini bukan kebijakan perlindungan pasar, ini merusak kepercayaan investor.
Pajak dividen harus dievaluasi serius. Banyak negara tetangga telah menuju nol persen untuk dividen. Selama beban pajak ini masih tinggi, saham kalah bersaing dengan deposito dan obligasi di mata investor jangka panjang terutama saat suku bunga sedang tinggi. Demikian pula akses investor asing ritel yang saat ini terfragmentasi dan berbeda-beda aturannya antar sekuritas. Alih-alih membiarkan rupiah kita pergi ke luar untuk membeli saham asing, undanglah investor ritel asing untuk membeli saham kita.
Yang paling mendesak adalah pemenuhan syarat free float minimum 15% yang diminta MSCI. Ini bukan sekadar angka teknis. Dana-dana global senilai ratusan triliun dolar AS menggunakan indeks MSCI sebagai acuan. Jika Indonesia di-downgrade seperti yang pernah dialami Pakistan yang turun dari Emerging Markets ke Frontier Markets, gelombang outflow paksa yang terjadi bisa jauh lebih besar dan lebih cepat dari yang bisa dibayangkan. Tidak ada cadangan devisa yang cukup untuk menahan itu.
Bukan sekadar indeks
IHSG yang sehat bukan hanya tentang angka yang terus naik. Ia tentang pasar yang dalam, likuid, adil, dan dipercaya oleh semua pelaku dari investor ritel muda hingga fund manager asing kelas dunia. Faktor-faktor eksternal seperti suku bunga Fed, gejolak geopolitik, dan harga komoditas akan selalu ada dan tidak bisa kita kendalikan. Yang bisa kita kendalikan adalah kualitas fondasi bursa kita sendiri.
Jika fondasinya kuat, regulasi adil, basis investor luas, transparansi terjaga, serta daya saing fiskal yang kompetitif, maka setiap badai yang datang hanya akan menghasilkan koreksi sementara, bukan kehancuran struktural. Sebaliknya, jika kelemahan yang ada terus dibiarkan, maka tidak diperlukan krisis global yang dahsyat untuk mengirim IHSG ke titik terendahnya. Angin sepoi pun sudah cukup untuk merobohkan rumah yang dibangun di atas pasir.


Comment