BANYUWANGI, linejatim – Memasuki awal tahun 2026, wajah industri di Banyuwangi kian bersinar seiring dengan dimulainya pembangunan pabrik bioetanol generasi terbaru, Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagatha Nusantara, atau yang kini dikenal sebagai Danantara, resmi melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) di kawasan Pabrik Gula (PG) Glenmore. (2/1/2026)
Proyek senilai USD 40 juta atau sekitar Rp600 miliar ini menandai langkah konkret Indonesia dalam mempercepat hilirisasi industri sekaligus transisi menuju energi bersih.
Lahirnya pabrik ini merupakan buah dari perkawinan strategis antara dua kekuatan besar nasional, yakni Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), anak perusahaan PTPN III Holding Perkebunan. Dalam kerja sama ini, Pertamina hadir membawa kekuatan modal dan teknologi kilang mutakhir, sementara SGN memastikan jantung produksi tetap berdenyut melalui pasokan molase atau tetes tebu yang melimpah dari perkebunan sekitar.
Sebagai salah satu pabrik gula paling modern di tanah air, lokasinya memungkinkan integrasi yang sangat efisien. Pabrik bioetanol ini dibangun tepat di sisi selatan pabrik gula, sehingga distribusi tetes tebu dari hasil penggilingan dapat dialirkan secara langsung.
Efisiensi ini menjadi kunci bagi target ambisius mereka memproduksi 30.000 kiloliter bioetanol per tahun dengan tingkat kemurnian 99,5 persen.
CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa proyek ini bukan sekadar mengejar angka keuntungan di atas kertas, Dirinya menegaskan bahwa pabrik di Banyuwangi adalah bagian dari 18 proyek hilirisasi strategis tahun ini yang dirancang untuk memperkuat ketahanan lingkungan serta infrastruktur dasar Indonesia.
Hasil produksinya nanti akan menjadi komponen vital bagi bahan bakar ramah lingkungan, seperti Pertamax Green 95, guna menekan emisi karbon di sektor transportasi.
Di balik visi besar energi hijau tersebut, masyarakat lokal juga akan merasakan dampak ekonominya secara langsung selama masa konstruksi, proyek ini diperkirakan mampu menyerap hingga 4.500 tenaga kerja, serta membuka ratusan lapangan kerja tetap saat operasional dimulai. Bahkan, selama masa pembangunan saja, kontribusi proyek ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) diproyeksikan mencapai Rp1,6 triliun per tahun.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama SGN, Mahmudi, menjelaskan bahwa fasilitas ini akan menjadi kebanggaan kedua bagi PTPN Group setelah pabrik mereka di Bojonegoro.
Dengan teknologi distilasi dan dehidrasi terbaru, serta sistem logistik yang terintegrasi, kilang ini dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan biofuel nasional yang diperkirakan akan meledak hingga 51 juta liter pada tahun 2034.“Ungkapnya”
Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, pada akhir 2026, Banyuwangi tidak hanya akan dikenal dengan pariwisatanya, tetapi juga sebagai motor penggerak energi terbarukan di Indonesia.(AT)


Comment