Opini
Home » Berita » Pesan dari Balik layar HPN 2026: Mengapa Kita Begitu Mudah Dikendalikan oleh sang Manipulator Media?

Pesan dari Balik layar HPN 2026: Mengapa Kita Begitu Mudah Dikendalikan oleh sang Manipulator Media?

Bangkalan. Linejatim – Hari Pers Nasional (HPN). Momen ini terasa sangat personal bagi saya karena dirayakan dari balik layar media yang dibangun sendiri. Website ini dirintis dengan satu tujuan sederhana: mengabadikan perjalanan hidup melalui tulisan.

​Awalnya saya membuat wadah tersebut mau dipergunakan secara pribadi. Namu, jika tidak diperuntukkan bagi khalayak luas, maka akan menjadi situs yang membosankan dan pasif akhirnya saya mempertimbangkan kembali sehingga muncul nama linejatim di web kami.

Dalam kesempatan berbahagia ini ketepan Hari Pers Nasional tanggal 09 Februari 2026, saya mencoba mengambil peran seorang jurnalis untuk menuangkan tinta pikiran dalam bentuk opini pubilk.

Menurut saya pribadi seorang insan pers adalah sosok hebat. Mereka merupakan perekam sejarah yang bertugas mencatat siklus peradaban bangsa, baik di kota maupun desa. Aktivitas tersebut tampak mulia, ibaratnya malaikat Jibril sang pembawa pesan langit atau jika disederhanakan dalam dunia modern, adalah pembawa informasi vital bagi kehidupan ummat dan negara. Sungguh luar biasa, kita perlu memberikan apresiasi tinggi bagi rekan-rekan yang berprofesi sebagai wartawan.

Melalui perusahaan media online yang dikembangkan, saya mencoba “menyelam sambil minum air” mempelajari hal yang berkaitan dengan tulisan, investigasi, cara merawat relasi dan membangun jaringan, menemui orang baru, menambah wawasan dalam memahami karakteristik sehingga saya menemukan sisi gelap tak terduga. Disitu muncul banyak dugaan bagaimana oknum di lapangan bekerja bukan berdasarkan fakta melainkan berdasarkan pesanan atau keinginan pribadi untuk tujuan tertentu.

Gawat Darurat Integritas: Kanker Korupsi yang Menggerogoti Pemerintahan Daerah Jawa Timur

​Informasi diputarbalikkan menjadi isu “gorengan” Hal kecil dibesar-besarkan, sebaliknya, sesuatu yang seharusnya disampaikan kepada publik justru disembunyikan dalam kantong pribadi. Di titik ini, saya menyadari bahwa untuk mengelabui atau mengetahui kehidupan sosial dan kehidupan lainnya termasuk pekerjaan pejabat dan setrusnya sangatlah mudah cukup otak atik kuasai media maka secara perlahan akan menjadi terang menderang sebagai fakta baru.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah tulisan dari sang mantan manipulator media Ryan Holiday “Trust Me, I’m Lying” Dalam buku tersebut tertulis dengan halus dan lembut bahwa kebenaran itu nomor dua yang paling penting adalah sensasi. Tulisan tidak lagi dinilai dari urgensi isinya untuk di publis, melainkan bergantung pada tuan kepentingan baik individu atau kelompok.

​Di sana juga dijelaskan pula bahwa kabar bohong propaganda, manipulasi dan tulisan provokatif secara kontinu dikirim ke email, blog, serta surat kabar. Lalu, media besar mengutipnya sampai akhirnya dianggap sebagai fakta oleh masyarakat.

Dalam konteks ini saya berpendapat sama dengan apa dipaparkan oleh Ryan Holiday. Disitu saya menilai seolah mencerminkan kondisi wajah insan pers saat ini, Kita sebagai pemburu berita terkadang dipaksa terjebak dalam arus manipulasi demi konten menarik yang kemudian perlahan bergeser menjadi sekadar mesin penghasil drama dan pengejar viwer’s serta kepentingan yang tidak baik untuk umum.

Hal ini sangat merugikan kepentingan publik dan kita sebagai penyaji berita harus benar-benar objektif dalam menyampaikan informasi jangan terpicu dengan hal yang instan mudah viral dan setetusnya.

Eksaminasi Marwah Melayu dalam Konteks Krisis Integritas Birokrasi, Sebuah Telaah dari Bumi Lancang Kuning Riau.

Karenavl tujuan utama media adalah menciptakan masyarakat yang terinformasi (informed society). masyarakat yang tahu kebenaran, masyarakat yang tidak mudah dimanipulasi.

Dalam moment yang sakral di Hari Pers Nasional 2026 ini menjadi alarm bagi saya. Menjadi penulis sejarah atau insan pers bukan sekadar memiliki kartu pers atau mengelola website, melainkan memikul tanggung jawab moral bagi kehidupan masyarakat

Jika kita terus membiarkan kebenaran menjadi nomor dua demi sensasi, maka kita sebenarnya sedang menggali kubur bagi kredibilitas profesi kita sendiri.

Nurul Rohman

Refleksi Sumpah Pemuda; Apakah semangat Sumpah Masih relevan diperingati

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *